PARADIGMA IDENTITAS SOSIAL
Ocha Anggraini
Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin
Dumai
E-mail: ochaanggrainianggraini@gmail.com
Abstrak
Kajian ini
bertujuan untuk menganalisis paradigma identitas sosial dalam pendekatan
sosiologi dan antropologi pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan Islam.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan,
memadukan teori konstruksi sosial (Berger & Luckmann, 1966) dan teori
enkulturasi budaya (Geertz, 1973). Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak
pada integrasi antara perspektif sosiologis dan antropologis dalam memahami
proses pembentukan identitas sosial peserta didik, yang selama ini lebih banyak
dikaji secara terpisah. Riset gap ditemukan pada kurangnya kajian yang
menyoroti hubungan dialektis antara struktur sosial dan sistem budaya dalam
pendidikan Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembentukan identitas sosial
tidak hanya dipengaruhi oleh proses sosialisasi dan relasi kekuasaan dalam
lembaga pendidikan, tetapi juga oleh simbol, nilai, dan praktik budaya yang
diwariskan melalui pendidikan Islam. Kajian ini merekomendasikan pengembangan
model pendidikan Islam yang berorientasi pada keseimbangan antara tradisi dan
modernitas, serta integrasi nilai-nilai Islam dengan budaya lokal agar
identitas keislaman peserta didik tetap kokoh, kontekstual, dan relevan
terhadap tantangan global.
Kata Kunci: identitas sosial, sosiologi pendidikan, antropologi
pendidikan, pendidikan Islam, enkulturasi budaya.
Abstract
This study aims
to analyze the paradigm of social identity within sociological and
anthropological approaches to education, particularly in the context of Islamic
education. Employing a qualitative literature-based method, the research
integrates the theory of social construction (Berger & Luckmann, 1966) and
the theory of cultural enculturation (Geertz, 1973). The novelty of this study
lies in combining sociological and anthropological perspectives to understand
the formation of students’ social identity—an aspect that has often been
examined separately. The research gap identified is the lack of studies
addressing the dialectical relationship between social structures and cultural
systems in Islamic education. The findings reveal that social identity
formation is shaped not only by socialization processes and power relations
within educational institutions but also by the cultural symbols, values, and
practices transmitted through Islamic education. This study recommends
developing an Islamic educational model that balances tradition and modernity
while integrating Islamic values with local culture. Such integration is
essential to maintain students’ Islamic identity that is strong, contextual,
and relevant to the challenges of globalization.
Keywords: social identity, sociology of education, anthropology of
education, Islamic education, cultural enculturation.
PENDAHULUAN
Fenomena identitas sosial dalam konteks pendidikan menjadi semakin kompleks seiring dengan perubahan sosial yang cepat dan arus globalisasi yang mendunia. Dunia pendidikan saat ini tidak hanya berperan sebagai lembaga pengajaran, tetapi juga sebagai arena pembentukan identitas sosial peserta didik. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan untuk membentuk identitas keislaman yang moderat, toleran, dan relevan dengan perubahan zaman. Pendidikan tidak lagi hanya berfungsi mentransfer pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kesadaran sosial yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan universal (Berger & Luckmann, 1966).
Judul ini berangkat dari realitas sosial yang menunjukkan terjadinya perubahan nilai, perilaku, dan orientasi sosial di kalangan peserta didik muslim. Fenomena meningkatnya polarisasi sosial, perbedaan pandangan keagamaan, dan munculnya identitas keagamaan baru di ruang publik memperlihatkan adanya dinamika identitas sosial yang perlu dikaji lebih dalam. Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini menjadi penting karena sekolah atau madrasah berfungsi sebagai institusi yang mereproduksi nilai dan simbol keagamaan yang turut menentukan arah pembentukan identitas sosial generasi muda (Nasir, 2020).
Dari perspektif sosiologi pendidikan, identitas sosial merupakan hasil konstruksi sosial yang terbentuk melalui proses interaksi, struktur sosial, dan sistem nilai yang ada di masyarakat. Lembaga pendidikan berperan sebagai agen sosialisasi utama yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan memaknai diri seseorang dalam relasi sosial. Dalam hal ini, paradigma sosiologis menekankan pada bagaimana institusi pendidikan membentuk identitas peserta didik melalui struktur sosial dan relasi kekuasaan yang ada di dalamnya (Giddens, 1984). Dengan kata lain, pendidikan menjadi medium pembentukan identitas sosial yang diwarnai oleh nilai-nilai sosial dominan dan struktur sosial tertentu.
Sementara itu, dalam perspektif antropologi pendidikan, identitas sosial dipahami sebagai hasil dari sistem simbolik, tradisi, dan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Antropologi melihat pendidikan sebagai proses enkulturasi, di mana nilai dan makna budaya ditanamkan melalui interaksi dan simbol-simbol yang ada dalam kehidupan pendidikan. Dalam konteks pendidikan Islam, simbol keagamaan seperti ritual, bahasa, dan tradisi pesantren menjadi bagian penting dalam membentuk identitas sosial peserta didik (Geertz, 1973). Dengan demikian, pendekatan antropologi membantu memahami makna simbolik di balik proses pendidikan Islam.
Kebaruan (novelty) kajian ini terletak pada upaya mengintegrasikan paradigma sosiologis dan antropologis untuk memahami identitas sosial dalam pendidikan Islam. Sebagian besar penelitian sebelumnya cenderung hanya menekankan salah satu sisi, yakni aspek struktural (sosiologis) atau aspek kultural (antropologis). Pendekatan integratif ini menawarkan cara pandang baru bahwa pembentukan identitas sosial dalam pendidikan Islam merupakan hasil dialektika antara struktur sosial dan sistem budaya yang berlangsung secara simultan (Ahmad, 2022). Dengan demikian, paradigma ini tidak hanya menjelaskan bagaimana identitas sosial terbentuk, tetapi juga bagaimana ia berubah dan beradaptasi terhadap dinamika sosial yang terus berkembang.
Dari sisi research gap, penelitian tentang identitas sosial dalam pendidikan Islam masih terbatas pada dimensi moral dan keagamaan semata, seperti pembentukan karakter religius, akhlak, atau etika keislaman (Hidayat, 2019). Sementara itu, dimensi sosial-budaya yang turut memengaruhi pembentukan identitas keislaman sering diabaikan. Belum banyak kajian yang secara eksplisit mengaitkan teori-teori sosiologi dan antropologi dalam menjelaskan bagaimana identitas keislaman peserta didik terbentuk di tengah pluralitas sosial dan budaya. Oleh karena itu, kajian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menawarkan pendekatan multidisipliner yang lebih komprehensif.
Analisis terhadap paradigma identitas sosial dari perspektif sosiologi dan antropologi pendidikan Islam memberikan pemahaman bahwa pendidikan merupakan arena dialektis antara struktur sosial dan budaya. Nilai-nilai Islam dalam pendidikan tidak statis, melainkan bertransformasi sesuai dengan konteks sosial dan budaya di mana ia berada. Dengan memahami relasi ini, pendidik Islam dapat mengembangkan strategi pendidikan yang lebih adaptif terhadap keberagaman dan perubahan sosial tanpa kehilangan nilai-nilai normatif Islam yang esensial (Azra, 2018). Hal ini penting agar pendidikan Islam tidak terjebak dalam formalisme, tetapi mampu menjadi kekuatan sosial yang membentuk masyarakat yang beradab dan beridentitas kuat.
Dengan demikian, paradigma identitas sosial dalam pendekatan sosiologi dan
antropologi pendidikan memberikan landasan teoritis yang kuat untuk
menganalisis dinamika pembentukan identitas keislaman peserta didik. Pendidikan
Islam harus dipahami bukan hanya sebagai proses religius, tetapi juga sebagai
proses sosial dan budaya yang kompleks. Pendekatan integratif ini diharapkan
dapat memperkaya khazanah keilmuan pendidikan Islam serta menjadi pijakan dalam
merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih kontekstual, inklusif, dan
transformatif di era globalisasi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma sosiologis dan antropologis sebagai kerangka analisis utama. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada pemahaman makna sosial, simbolik, dan budaya di balik pembentukan identitas sosial dalam konteks pendidikan Islam. Secara sosiologis, penelitian ini berupaya menganalisis bagaimana struktur sosial, relasi kekuasaan, dan norma-norma sosial berperan dalam membentuk identitas peserta didik. Sementara secara antropologis, penelitian ini menelusuri nilai-nilai budaya, simbol keagamaan, dan praktik sosial yang berlangsung di lingkungan pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan identitas (Geertz, 1973; Giddens, 1984).
Metode pengumpulan data dilakukan melalui kajian pustaka (library research) dengan menelaah berbagai literatur ilmiah terkait teori identitas sosial, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, serta kajian pendidikan Islam. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi pola dan tema yang muncul dalam literatur yang relevan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji relasi antara teori sosial dan praktik pendidikan Islam secara mendalam, tanpa harus terikat pada konteks lapangan tertentu (Creswell, 2018). Dengan demikian, hasil penelitian ini bersifat konseptual dan bertujuan memperluas kerangka teoritis yang dapat digunakan dalam studi pendidikan Islam.
Analisis data dilakukan melalui pendekatan interpretatif, yaitu dengan
menafsirkan makna di balik konsep, simbol, dan praktik pendidikan berdasarkan
perspektif sosial dan budaya. Teknik analisis ini mengikuti pola kerja
penelitian sosiologi-antropologi yang menekankan pada thick
description—pemahaman mendalam terhadap konteks sosial dan budaya (Geertz,
1973). Dalam konteks ini, paradigma identitas sosial dipahami sebagai hasil
interaksi dinamis antara struktur sosial dan makna budaya yang hidup dalam institusi
pendidikan Islam. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap pengembangan teori pendidikan Islam yang lebih adaptif terhadap
perubahan sosial dan kebudayaan global.
PEMBAHASAN
· Paradigma Identitas Sosial dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan
1. Konsep Dasar Identitas Sosial
Dalam perspektif sosiologi, identitas sosial dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang terbentuk melalui interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Menurut Tajfel (1981), identitas sosial adalah bagian dari konsep diri individu yang berasal dari pengetahuannya sebagai anggota kelompok sosial tertentu, beserta nilai dan makna emosional yang melekat pada keanggotaan tersebut. Dengan kata lain, identitas sosial bukanlah bawaan lahir, melainkan terbentuk melalui proses interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus. Giddens (1984) menambahkan bahwa pembentukan identitas tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang mengatur tindakan manusia. Struktur sosial menyediakan kerangka nilai, norma, dan simbol yang menjadi acuan dalam proses pembentukan identitas individu di masyarakat.
Berger dan Luckmann (1966) memperkuat pandangan tersebut dengan teori konstruksi sosial atas realitas, yang menyatakan bahwa identitas manusia dibangun melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Melalui proses itu, manusia menciptakan dunia sosialnya, kemudian menganggapnya sebagai kenyataan objektif, dan akhirnya menginternalisasi nilai-nilai sosial tersebut ke dalam diri. Dalam konteks pendidikan, teori ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran besar dalam mengonstruksi identitas sosial peserta didik melalui proses sosialisasi nilai-nilai sosial, agama, dan budaya yang diterima sebagai “kenyataan” dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pendidikan sebagai Agen Pembentukan Identitas Sosial
Pendidikan berfungsi sebagai agen sosialisasi utama yang membentuk nilai, perilaku, dan orientasi sosial individu. Melalui pendidikan, peserta didik diperkenalkan dengan nilai moral, disiplin sosial, serta peran-peran sosial yang diharapkan masyarakat. Sekolah menjadi wadah penting di mana individu belajar memahami identitas dirinya dalam hubungannya dengan orang lain. Menurut Durkheim (1956), pendidikan berperan mempertahankan solidaritas sosial dan menanamkan kesadaran kolektif agar individu dapat menyesuaikan diri dengan tatanan sosial yang berlaku. Dalam hal ini, sekolah tidak sekadar tempat belajar akademik, tetapi juga sarana pembentukan kepribadian sosial.
Di sisi lain, relasi kekuasaan dan
struktur sosial juga turut menentukan arah pembentukan identitas sosial di
lingkungan pendidikan. Foucault (1980) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan
arena di mana kekuasaan dan pengetahuan berinteraksi, membentuk wacana tertentu
yang memengaruhi bagaimana seseorang memahami dirinya. Norma, aturan, dan
sistem evaluasi dalam pendidikan sering kali menjadi instrumen sosial yang
membentuk identitas dan perilaku peserta didik sesuai dengan standar sosial
tertentu. Dengan demikian, pendidikan berfungsi ganda: sebagai sarana
pembebasan melalui pengetahuan, sekaligus sebagai alat reproduksi sosial yang
mempertahankan struktur sosial yang ada.
3. Implikasi bagi Pendidikan Islam
Dalam konteks pendidikan Islam, lembaga-lembaga pendidikan seperti madrasah, pesantren, maupun sekolah Islam modern berperan besar dalam membentuk identitas keislaman peserta didik. Identitas keislaman di sini tidak hanya dipahami secara teologis, tetapi juga sebagai hasil proses sosial yang dipengaruhi oleh interaksi dengan nilai-nilai masyarakat. Menurut Azra (2018), pendidikan Islam memiliki fungsi ganda: sebagai wahana internalisasi nilai-nilai ilahiah dan sebagai sarana pembentukan kesadaran sosial berbasis nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Proses ini menuntut lembaga pendidikan Islam untuk mampu menyeimbangkan antara pemurnian nilai-nilai agama dan kebutuhan adaptasi terhadap realitas sosial modern.
Hubungan antara nilai Islam dan sistem sosial modern juga menciptakan dialektika menarik. Ketika globalisasi membawa nilai-nilai baru seperti individualisme dan materialisme, pendidikan Islam ditantang untuk membangun identitas sosial yang tetap berakar pada nilai-nilai spiritual namun mampu bersaing di dunia modern (Hidayat, 2019). Dalam kerangka ini, paradigma sosiologi pendidikan membantu memahami bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat mengonstruksi identitas sosial yang berkarakter religius, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan sosial. Pendidikan Islam, karenanya, berperan penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab moral dalam kehidupan masyarakat modern.
· Paradigma Identitas Sosial dalam Perspektif Antropologi Pendidikan
1. Pendidikan sebagai Proses Enkulturasi
dan Internalisasi Budaya
Dalam pandangan antropologi, pendidikan merupakan proses enkulturasi, yaitu penanaman nilai, norma, dan cara hidup suatu masyarakat kepada generasi muda agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya. Melalui pendidikan, individu tidak hanya memperoleh pengetahuan formal, tetapi juga nilai-nilai simbolik yang membentuk cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sosial (Koentjaraningrat, 2009). Simbol, nilai, dan praktik budaya yang hadir dalam kehidupan sekolah—seperti cara berpakaian, pola komunikasi, serta tata krama antar guru dan siswa—menjadi bagian dari proses pembentukan identitas sosial peserta didik. Proses ini menunjukkan bahwa pendidikan berperan bukan hanya dalam mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam mewariskan sistem budaya yang hidup dalam masyarakat.
Clifford
Geertz (1973) memberikan kontribusi penting dalam memahami pendidikan melalui
pendekatan interpretatif, yaitu memaknai kebudayaan sebagai sistem simbol yang
memberi makna terhadap tindakan manusia. Dalam konteks pendidikan Islam,
pendekatan ini membantu menafsirkan berbagai praktik keagamaan di sekolah atau
pesantren—seperti shalat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, atau tradisi
zikir—sebagai simbol yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga membentuk
identitas sosial dan spiritual peserta didik. Dengan demikian, pendidikan Islam
dapat dilihat sebagai arena di mana nilai-nilai budaya dan agama
diinterpretasikan ulang dalam konteks sosial yang terus berubah.
2. Dimensi Budaya dalam Pembentukan Identitas Sosial
Identitas sosial dalam perspektif antropologi terbentuk melalui interaksi simbolik yang terjadi dalam budaya pendidikan. Tradisi, ritual, dan simbol keagamaan yang dijalankan di sekolah atau madrasah tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi media pembentukan makna sosial tentang siapa diri peserta didik dalam komunitasnya. Ritual harian seperti salam, doa bersama, atau kegiatan keagamaan rutin di lembaga pendidikan Islam berfungsi sebagai bentuk reproduksi budaya yang meneguhkan identitas kolektif (Spradley, 1980). Melalui partisipasi aktif dalam praktik tersebut, peserta didik menginternalisasi nilai-nilai moral dan sosial yang menjadi bagian dari identitas keislaman mereka.
Selain itu, keterkaitan antara budaya lokal dan nilai Islam juga memainkan peran penting dalam membentuk identitas sosial siswa. Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, nilai-nilai Islam sering kali berpadu dengan tradisi lokal seperti gotong royong, penghormatan terhadap guru (ta’dzim), dan semangat kebersamaan. Menurut Azra (2018), Islam di Indonesia telah bertransformasi menjadi “Islam Nusantara” yang menampilkan karakter moderat dan toleran melalui akulturasi budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam bukan entitas yang terpisah dari budaya, melainkan ruang di mana nilai-nilai Islam dan kearifan lokal saling berinteraksi membentuk identitas sosial yang khas.
3. Tantangan Antropologis dalam Pendidikan Islam Modern
Memasuki era globalisasi, pendidikan Islam menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Globalisasi membawa nilai-nilai baru seperti rasionalitas, individualisme, dan teknologi digital yang mengubah pola belajar serta cara peserta didik membangun identitasnya. Fenomena ini sering menimbulkan ketegangan antara nilai tradisional pendidikan Islam yang menekankan kolektivitas dan kesederhanaan dengan nilai-nilai modern yang lebih kompetitif dan pragmatis (Hefner, 2009). Dalam konteks ini, pendekatan antropologis membantu menjelaskan bagaimana lembaga pendidikan Islam bernegosiasi dengan nilai-nilai global tanpa kehilangan akar budaya dan religiusnya.
Upaya menjaga keseimbangan antara
tradisi dan modernitas dalam pendidikan Islam dapat dilakukan dengan memadukan
nilai-nilai lokal dan universal Islam dalam proses pembelajaran. Pendidikan
Islam perlu menempatkan budaya sebagai bagian integral dari proses pendidikan,
bukan sebagai ancaman terhadap kemurnian ajaran. Dengan memahami pendidikan
sebagai praktik sosial-budaya, lembaga pendidikan Islam dapat membentuk
identitas peserta didik yang religius sekaligus terbuka terhadap perubahan
sosial. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan Islam yang tidak hanya
menekankan aspek keilmuan, tetapi juga membangun karakter sosial, moral, dan
kultural peserta didik agar siap menghadapi tantangan zaman secara arif.
SIMPULAN
Kajian tentang paradigma identitas sosial dalam pendekatan sosiologi dan antropologi pendidikan menunjukkan bahwa pembentukan identitas individu tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya tempat ia hidup. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, identitas sosial dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang terbentuk melalui proses sosialisasi, struktur sosial, serta relasi kekuasaan yang hadir di lembaga pendidikan (Berger & Luckmann, 1966; Giddens, 1984). Sekolah berfungsi sebagai agen sosialisasi utama yang menanamkan nilai, norma, dan perilaku sosial sesuai tuntutan masyarakat. Dalam konteks pendidikan Islam, lembaga pendidikan menjadi wadah pembentukan identitas keislaman yang religius, sosial, dan moral, sekaligus berperan dalam membangun kesadaran sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Sementara itu, perspektif antropologi pendidikan menyoroti pentingnya budaya, simbol, dan praktik sosial dalam membentuk identitas sosial peserta didik. Pendidikan dipandang sebagai proses enkulturasi di mana nilai-nilai budaya dan tradisi keagamaan diwariskan dan diinternalisasi oleh generasi muda (Geertz, 1973; Koentjaraningrat, 2009). Dalam pendidikan Islam, proses ini tampak melalui tradisi dan ritual keagamaan di sekolah maupun pesantren yang memperkuat ikatan sosial dan spiritual. Keterpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal melahirkan identitas sosial yang khas, seperti tampak pada corak Islam Nusantara yang inklusif, moderat, dan berakar kuat pada kearifan lokal (Azra, 2018).
Dengan mengintegrasikan pendekatan sosiologis dan antropologis, pendidikan Islam dapat dipahami sebagai arena dialektis antara struktur sosial dan sistem budaya. Paradigma identitas sosial ini memberikan landasan teoritis untuk mengembangkan model pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan transfer pengetahuan agama, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan budaya yang relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan Islam diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai spiritual dan rasionalitas sosial, sehingga melahirkan generasi muslim yang beridentitas kuat, adaptif, dan berdaya saing global.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, R. (2022). Social identity and Islamic education: A
sociological perspective. Journal of Islamic Studies, 14(2),
115–128.
Azra, A. (2018). Islam Nusantara: Jaringan global dan
lokal. Jakarta: Prenadamedia Group.
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social
construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. New
York: Anchor Books.
Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative,
quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Thousand Oaks, CA:
Sage Publications.
Durkheim, E. (1956). Education and sociology. Glencoe,
IL: The Free Press.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews
and other writings 1972–1977. New York: Pantheon Books.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New
York: Basic Books.
Giddens, A. (1984). The constitution of society: Outline
of the theory of structuration. Berkeley: University of California Press.
Hefner, R. W. (2009). Making modern Muslims: The politics
of Islamic education in Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai‘i
Press.
Hidayat, M. (2019). Internalisasi nilai-nilai Islam dalam
pembentukan identitas sosial siswa. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1),
45–60.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi
(Edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Nasir, M. (2020). Culture and religion in Islamic
education: An anthropological analysis. International Journal of Islamic
Pedagogy, 5(3), 201–214.
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. New
York: Holt, Rinehart and Winston.
Tajfel, H. (1981). Human groups and social categories:
Studies in social psychology. Cambridge: Cambridge University Press.
Komentar
Posting Komentar